Perjalanan Menjadi UMKM Champion Padang 2025:

What they say
Berlangganan Newsletter Kami

Dapatkan Tips Harian“, atau “Langganan Sekarang untuk Konten Eksklusif

 

Perjalanan Menjadi UMKM Champion Padang 2025: Belajar, Bertumbuh, dan Menghidupkan Cerita Batik Minangkabau

Oleh: Mareta Sari — Founder & CEO Rumah Batik Syahla


Belajar, Bertumbuh, dan Menghidupkan Cerita Batik Minangkabau
Oleh: Mareta Sari — Founder & CEO Rumah Batik Syahla

Ketika Sebuah Perjalanan Membuka Banyak Pintu yang Tidak Pernah Saya Bayangkan

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Perkenalkan, saya Mareta Sari, pendiri sekaligus CEO Rumah Batik Syahla.

Akhir 2024 dan awal 2025 menjadi titik penting dalam perjalanan usaha saya. Di tengah upaya menjaga kualitas produksi, memperkuat identitas brand, serta menghadirkan batik Minangkabau yang relevan bagi generasi modern—Allah menghadirkan sebuah kesempatan lain yang sangat berharga: Program UMKM Champion Padang 2025.

Saat itu, saya tidak membayangkan bahwa perjalanan ini akan membawa perubahan besar dalam cara saya melihat, memikirkan, dan menjalankan bisnis.

Program ini bukan sekadar kelas.
Ia adalah ruang belajar, ruang evaluasi diri, dan bahkan ruang penyembuhan bagi pelaku UMKM yang kadang berlari sendirian tanpa peta yang jelas.

Dan di sini saya ingin membagikan perjalanan itu…
Pelajaran yang saya dapatkan…
Serta bagaimana semua ini mengubah Rumah Batik Syahla.

Pertemuan 1 — Business Model Canvas: Menemukan Peta Pulang untuk Bisnis

Di kelas pertama, kami diperkenalkan dengan Business Model Canvas (BMC).
Walaupun saya pernah membaca sekilas tentang BMC sebelumnya, pengalaman mempelajarinya secara terstruktur—didampingi mentor, diskusi bersama peserta lain—membuat saya memandang usaha saya dengan kacamata yang benar-benar baru.

Saya ditantang untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar:

  • Siapa pelanggan yang saya layani?
  • Masalah apa yang sebenarnya ingin saya selesaikan?
  • Apa nilai unik yang Rumah Batik Syahla hadirkan?
  • Bagaimana perjalanan sebuah kain dari pengrajin hingga pelanggan?
  • Di mana titik terlemah dan titik terkuat dari bisnis saya?

Saat mengisi BMC, saya sampai terdiam beberapa kali.
Ada rasa haru, bangga, sekaligus sadar bahwa:


Rumah Batik Syahla bukan hanya penjual kain.
 Rumah Batik Syahla adalah penjaga cerita.
 Kami menghadirkan filosofi Minangkabau pada setiap helai batik.
BMC mengajarkan saya untuk tidak hanya fokus “menjual”, tetapi memahami “mengapa kami ada”.

Rumah Batik Syahla bukan hanya penjual kain.
Rumah Batik Syahla adalah penjaga cerita.
Kami menghadirkan filosofi Minangkabau pada setiap helai batik.

BMC mengajarkan saya untuk tidak hanya fokus “menjual”, tetapi memahami “mengapa kami ada”.

Pertemuan 2 — HPP & Pembukuan: Menyatukan Seni dan Angka

Jika pertemuan pertama membuka mata saya, maka pertemuan ini membuka seluruh ruang pikiran saya.

Membuat batik adalah seni.
Aroma malam yang dipanaskan, suara cap yang ditekan ke kain, proses pewarnaan, pengeringan, sampai sentuhan akhir—semuanya adalah proses yang indah.

Namun, program ini mengingatkan:

Karya yang indah tetap membutuhkan fondasi angka yang rapi.

Di sesi ini saya belajar:

  • menghitung HPP dengan benar,
  • memetakan biaya produksi yang sering tersembunyi,
  • membuat pembukuan sederhana tapi akurat,
  • memisahkan keuangan pribadi dan bisnis,
  • memahami pola pengeluaran yang harus dikendalikan.

Saya bahkan tersenyum sendiri saat menyadari berapa banyak pelaku UMKM yang “tersandung” karena pembukuan yang tidak rapi—dan saya hampir termasuk salah satunya.

Dari sini saya berjanji pada diri sendiri:
Syahla harus berdiri di atas angka yang sehat.

Pertemuan 3 — Branding: Menemukan Identitas yang Membedakan

Ini adalah salah satu pertemuan yang paling saya sukai.

Branding mengingatkan saya bahwa:

  • motif bukan sekadar gambar,
  • warna bukan sekadar estetika,
  • kain bukan sekadar produk,
  • dan pelanggan bukan sekadar pembeli.

Branding mengajarkan:

Identitas adalah napas sebuah usaha.
Nilai adalah alasan mengapa orang memilih kita.

Saya memahami bahwa kekuatan Rumah Batik Syahla terletak pada:

  • filosofi motif Minangkabau,
  • cerita budaya di balik setiap corak,
  • pengrajin lokal yang kami berdayakan,
  • dan cara kami menyampaikan makna setiap warna, garis, dan pola.

Kelas ini membuat identitas kami semakin kuat—lebih dari sekadar batik, tetapi sebuah cerita tentang akar budaya Minang yang kami bawa dengan bangga.

Pertemuan 4 — Digital Asset: Ketika Visual Menjadi Bahasa Baru

Pada pertemuan ini, kami mempelajari cara:

  • memotret produk empat sisi,
  • menyusun visual story tujuh konten,
  • memahami cahaya, komposisi, dan estetika sederhana,
  • menjaga konsistensi visual agar brand tetap terpercaya.

Saya menyadari bahwa:

Dalam dunia digital, foto adalah representasi pertama dari kualitas kita.

Kain yang indah harus difoto dengan cara yang juga indah.
Filosofi batik harus tampak dari visualnya.

Pertemuan ini sangat membantu saya memperbaiki standar konten visual Rumah Batik Syahla.

Pertemuan 5 — Canva, CapCut, dan Katalog Produk: Mengemas Cerita dalam Bahasa Modern

Di sini saya benar-benar banyak praktik.

Saya belajar:

  • membuat katalog yang rapi dan elegan,
  • membuat poster promo,
  • membuat template untuk konsistensi visual,
  • mengedit video singkat berkualitas,
  • memilih jenis huruf dan warna yang sesuai karakter brand.

Dan dari sini saya sadar:

Cerita batik tidak cukup hanya diceritakan lewat kata-kata.
Ia perlu dibungkus dalam desain yang hidup dan menarik.

Pertemuan 6 — Public Speaking: Menyuarakan Identitas Sebagai Founder

Pertemuan ini terasa seperti bercermin.

Saya belajar:

  • bagaimana founder harus tampil,
  • bagaimana membawa nilai brand melalui tutur,
  • bagaimana memperkenalkan filosofi batik dengan suara yang hangat dan meyakinkan,
  • bagaimana berbicara dengan percaya diri, tanpa mengubah diri.

Perjalanan Menjadi UMKM Champion Padang 2025: Belajar, Bertumbuh, dan Menghidupkan Cerita Batik Minangkabau

Materi ini menguatkan saya untuk berani tampil sebagai wajah Rumah Batik Syahla—bukan hanya pembuat, tetapi pembawa cerita.

Pertemuan 7 — SEO, SEM, dan Manajemen Risiko: Menata Langkah Jangka Panjang

Pertemuan ini membuka wawasan bahwa keberhasilan usaha bukan hanya tentang produk dan visual—tetapi strategi jangka panjang.

Saya belajar:

  • bagaimana kata kunci bekerja,
  • bagaimana membuat konten ramah Google,
  • bagaimana mengukur performa website,
  • bagaimana menjalankan iklan yang efektif,
  • bagaimana memetakan risiko usaha.

Di sinilah saya benar-benar merasa bahwa usaha saya sedang naik kelas—tidak hanya dalam kreativitas, tetapi juga dalam strategi.

Pertemuan 8 — Media Sosial: Rumah Digital yang Harus Dirawat

Pertemuan terakhir membahas hal yang sangat penting: konsistensi.

Saya belajar:

  • membuat konten yang tepat untuk segmen yang tepat,
  • merencanakan jadwal konten,
  • membangun hubungan dengan audiens,
  • menjaga ritme agar brand tetap hidup di hati pelanggan.

Foto bersama mentor Bang DODO, KREATOR SUMATERA BARAT

Saya sadar:

Media sosial bukan sekadar etalase.
Ia adalah rumah digital tempat kita bertemu dengan pelanggan.

Terima Kasih dan Harapan untuk Masa Depan

Perjalanan ini membuat saya semakin yakin bahwa:

UMKM bisa naik kelas,
asalkan mau belajar, berproses, dan tidak berhenti bertumbuh.

Saya mengucapkan terima kasih kepada:

Semoga Rumah Batik Syahla dapat terus melangkah,
Terus memperkuat cerita batik Minangkabau,
Dan menghadirkannya kepada lebih banyak orang—hingga ke penjuru Nusantara.

Wassalamualaikum.

Scroll to Top